Beberapa novelnya
dijadikan rujukan penulisan skripsi dan disertasi mahasiswa di Indonesia dan
luar negeri. Ia menovelkan La Galigo untuk Kebangkitan Budaya Bugis-Makassar.
![]() |
Beberapa diksi maupun judul karyanya seringkali -atau mungkin tidak sengaja-
menggunakan kata dan makna "rindu" sebagai titik awal mengalirkan
plot-plot cerita. Diksi “rindu”nya mengarah pada semacam kecintaan terhadap
kampung halaman yang eksotik, yang budayanya mengagumkan, dan yang tak habis-habis
menderas dalam inspirasi.
Dul Abdul
Rahman lahir dan dibesarkan di tengah alam perdesaan yang jauh dari hiruk pikuk
kota, tepatnya di kampung Taccibo Desa Tibona Kecamatan Bulukumpa, Bulukumba
pada tanggal 29 Januari 1974.
Selain menjadi sastrawan Dul Abdul Rahman bekerja sebagai peneliti dan dosen.
Tulisan-tulisannya tersebar di media nasional dan lokal di Indonesia dan
Malaysia. Iajuga merambah sastra cyber dengan menulis di situs
pribadinya: darsastra.blogspot.com.
Tulisan-tulisannya berupa karya sastra, kritik sastra, dan artikel budaya
dimuat koran lokal dan nasional di Indonesia dan Malaysia.
Buku-buku karyanya di bidang sastra yang sudah terbit sejauh ini:
1. Lebaran Kali Ini Hujan Turun (Kumpulan cerpen, Nala
Makassar, 2006)
2. Pohon-Pohon Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta,
2009).
3. Daun-Daun Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta,
2010)
4. Perempuan Poppo (Novel, Penerbit Ombak Yogyakarta,
2010)
5. Sabda Laut (Novel, Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010)
6. Sarifah (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2011)
7. La Galigo (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2012)
8. La Galigo 2 (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2012)
Dua novelnya terbit di Jakarta dan
Jogjakarta: Pohon-Pohon Meranggas dan Hutan Rindu. Novelnya Pohon-Pohon Rindu
dijadikan rujukan penulisan skripsi oleh mahasiswa, sedangkan Daun-Daun Rindu
dijadikan rujukan oleh seorang mahasiswa program doctor Universiti Malaya yang
melakukan penelitian hubungan Indonesia-Malaysia (lebih spesifik hubungan
Bugis-Melayu).
Dul menempuh pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Buludatu, Desa
Kalobba, Kecamatan Sinjai Tellulimpoe, Kabupaten Sinjai, 1981-1987, Madrasah
Tsanawiyah Negeri Tanete, Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba, 1987-1990,
SMA Negeri Bikeru Sinjai Selatan, Kabupaten Sinjai, 1990-1993, Jurusan Sastra
Inggeris, Fakultas Sastra, Universitas Hasanuddin Makassar, 1993-1998, Fakultas
Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar, 2001-2002, dan Program
Pascasarjana Universitas Hasanuddin, 2004-2009.
Dul Abdul Rahman. Putra pasangan Rappe Nongko Daeng
Patahang dan Siti Suleha. Ayahnya Rappe Nongko adalah cucu dari La Sulle Daeng
Patahang yang merupakan putra raja Bone. La Sulle Daeng Patahang meninggalkan
kerajaan Bone karena berselisih paham dengan kakaknya yang menjadi raja Bone.
La Sulle Daeng Patahang menetap di daerah Kajang Bulukumba. La Sulle Daeng
Patahang menikah dengan perempuan Kajang dan beranak pinak di sana. Siti
Suleha, ibu Dul Abdul Rahman adalah perempuan asli Sinjai.
Meski lahir di Desa Bontominasa (sekarang Desa
Tibona), sejak kecil, sekira berusia 5 tahun, Dul Abdul Rahman bermukim di
Kabupaten Sinjai. Semasa kecilnya, ia senang berpetualang. Ia sangat mencintai
alam. Itulah sebabnya, novel pertamanya “Pohon-Pohon Rindu” bertema alam dan
lingkungan.
Selain itu, novel “Pohon-Pohon Rindu” juga ia
persembahkan kepada perempuan pertama yang membuatnya jatuh cinta. Perempuan
itu bernama Ida Haji Muhiddin. Kekasih yang sangat dicintainya tersebut adalah
puteri Bikeru yang meninggal dunia pada tahun 1994 ketika ia masih berstatus
siswi SMA Negeri Bikeru Sinjai.
Ketika ia bersekolah di MTsN Tanete Bulukumba, Dul
sudah mulai aktif menulis. Cerpen pertamanya yang berjudul “Gerimis Senja”
dimuat SKH (Surat Kabar Harian) Mimbar Karya ketika ia masih bersekolah di MTsN
Tanete.
Dul Abdul Rahman juga adalah siswa yang berprestasi,
dari Madrasah Ibtidaiyah hingga SMA Bikeru Sinjai, ia selalu menduduki rangking
satu.
Selama kuliah di Universitas Hasanuddin, Dul Abdul
Rahman juga aktif sebagai pencinta lingkungan. Selama kuliah hingga sekarang ia
aktif berkunjung ke Malaysia. Bahkan ia pernah menetap di Sintok Kedah
Malaysia.
Menovelkan La Galigo untuk Kebangkitan Budaya
Bugis-Makassar
La Galigo, sejatinya adalah karya sastra terpanjang di
dunia menurut Sirtjo Koolhof. Tetapi sekian lama cerita La Galigo tenggelam
karena tidak ada yang berani “membongkar”nya. Atau mungkin ada yang ingin
menulisnya tetapi takut menulis sebuah karya yang akan dilabeli dengan istilah
EPIGON.
Karya Mahabarata dan Ramayana terkenal karena ditulis
ulang oleh banyak penulis-penulis India, bahkan luar India, sebutlah Mahabarata
dan Ramayana karangan C.Rajagopalachari, atau karangan RK.Narayan. Bahkan kitab
asli India tersebut “dijawakan” maka jadilah Mahabarata dan Ramayana versi
Jawa. Mahabarata dan Ramayana pun semakin dikenal luas. Pun SERAT CENTINI,
sekarang banyak “dibongkar” oleh banyak penulis sehingga kitab sastra klasik
jawa tersebut semakin terkenal karena semakin banyak dibaca dan dikaji.
Dul Abdul Rahman pun menovelkan La Galigo. Ia bukan
hanya berdasarkan dua belas jilid yang ada di Belanda yang ditulis oleh Colliq
Pujie, tetapi juga melakukan penelitian langsung. Ternyata cerita La Galigo
terus berkembang dalam masyarakat, bahkan ada episode yang menyatakan
Sawerigading berkunjung ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Banyak versi La
Galigo yang terdapat dalam masyarakat, tetapi tentu saja yang terkenal adalah
12 jilid yang sempat ditulis tangan oleh Colliq Pujie atas permintaan
B.F.Matthes.
Berkat novelnya La Galigo yang diterbitkan Diva Press
Yogyakarta, Dul Abdul Rahman diundang khusus mengikuti acara Borobudur Festival
Cultural and Writing pada tahun 2012.(*)
buku-buku selanjutnya dari dul abdul rahman
BalasHapus9. Insyaallah aku bisa sekolah (diva jogja 2015)
10. Pohon-pohon peluru (pustaka puitika jogja 2015)
11. Hikayat Cinta Lelaki monyet dan kupu-kupu bantimurung (Ombak jogja 2016)
wah luar biasa karya-karyanya
BalasHapus