Sabtu, 19 November 2016

Pantai Lemo-Lemo, Wisata Sejarah dan Sepotong Surga yang Terlupakan



Meriam Peninggalan Portugis dan Ranjau Laut Buatan Rusia

Tiga buah meriam peninggalan Portugis dan sebuah ranjau laut buatan Rusia senantiasa menjadi magnet tersendiri bagi para pengunjung Pantai Pasir Putih Lemo-Lemo.. Salah satu meriam dan ranjau laut tersebut kini masih dapat disaksikan di halaman rumah salah seorang warga bernama Karaeng  Te’ne. Meriam dan ranjau laut itu sengaja dipajang secara permanen dengan cara mengecornya di atas sebuah tatakan kotak persegi panjang.

Karaeng Te’ne adalah saudara sepupu dari Karaeng Radjamuda,  seorang ambtenaar dan pejabat distrik setempat pada masa kolonial Belanda. Perempuan kelahiran tahun 1943 ini menuturkan bahwa ada tiga meriam yang dulunya masing-masing berada di kawasan Butung Keke, Panorakkang dan Pintuang. Ketiga tempat itu berdasarkan pembagian wilayah Lemo-Lemo pada masa lalu. Di Butung Keke yang terletak di wilayah pantai  itulah terdapat meriam peninggalan Portugis yang moncongnya  menghadap ke laut. Berdasarkan kesepakatan masyarakat dan pemerintah setempat pada tahun 1980-an meriam tersebut dipindahkan ke halaman rumah Karaeng Te’ne. Hal ini dilakukan sebagai salah satu upaya pelestarian benda bersejarah tersebut. Sedangkan dua meriam lainnya yang berada di Panorakkkang dan Pintuang kini diamankan di rumah warga di Tanah Beru.
Bersama Karaeng Te'ne di depan meriam Portugis
Penuturan Karaeng Te’ne, berdasarkan cerita leluhurnya yang dituturkan secara turun temurun ke setiap generasi, meriam-meriam itu dulunya digunakan oleh Portugis untuk membendung serangan dari sebuah suku kanibal yang datang dari Pulau Seram, Maluku.  Suku kanibal itu kerap datang dengan menggunakan puluhan perahu.  Sebelum datangnya Portugis, suku kanibal itu sering meneror penduduk setempat. Mereka menangkapi manusia yang ditemuinya untuk dimakan. Semenjak kedatangan Portugis, suku kanibal itu tidak lagi bisa mencapai pantai. Setiap kali perahu-perahu mereka muncul maka mereka langsung ditembaki oleh meriam-meriam Portugis dari tepi pantai.
                Bila merujuk pada sejarah kedatangan Portugis ke Nusantara maka bisa dipastikan usia meriam-meriam itu sudah mencapai  500 tahun lebih.  Dalam catatan sejarah, Portugis merupakan bangsa Eropa pertama yang mencapai Kepulauan Nusantara. Dan bangsa Eropa pertama yang tiba di daratan Sulawesi  adalah Portugis. Pencarian mereka untuk mendominasi sumber perdagangan rempah-rempah yang menguntungkan pada awal abad ke-16 dan usaha penyebaran Katolik Roma mereka. Keahlian bangsa Portugis dalam navigasi, pembuatan kapal dan persenjataan memungkinkan mereka berani mengadakan ekspedisi penjelajahan dan ekspansi. Bermula dengan ekspedisi penjelajahan pertama yang dikirim ke Malaka yang mereka taklukkan pada tahun 1512. Melalui penaklukan militer dan persekutuan dengan penguasa setempat, mereka mendirikan pos, benteng, dan misi perdagangan di Indonesia Timur, termasuk Pulau Ternate, Ambon, dan Solor.
              Yang menyisakan misteri justru adalah ranjau laut itu! Bentuknya sangat mirip dengan ranjau laut buatan Rusia tahun 1927 yang lazim digunakan pada Perang Dunia II. Informasi dari penduduk setempat, ranjau laut itu telah ada sejak dulu dan tergeletak begitu saja di pantai. Asumsi penulis, ranjau laut  tersebut benar buatan Rusia namun digunakan oleh Jepang untuk menghadang kapal-kapal laut Tentara Sekutu. Hal ini sangat mungkin, sebab pada Perang Dunia I Jepang bersekutu dengan Rusia.



 Sepotong Surga yang Terlupakan

Lemo-Lemo adalah sebuah pantai  molek yang berpasir putih. Letaknya tujuh kilometer dari Tanah Beru, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Hamparan pasir putih membentang luas dan panjang. Beberapa gugusan batu karang menyembul ke permukaan air. Masih begitu alami. Selain itu terdapat sebuah fenomena alam yang unik berupa tanah berwarna merah melingkar yang berdiameter beberapa puluh sentimeter. Selebihnya tanah berwarna hitam. Apabila tanah merah ini digali, tanah akan tetap berwana merah.
Sangat berbeda dengan Pantai  Pasir Putih Tanjung Bira yang panas dan tanpa pepohonan, Pantai Lemo-Lemo justru sangat sejuk. Meski terik matahari menyengat namun suasana pantai ini disejukkan oleh rimbunan hutan dengan tumbuhan heterogen yang berada di sekitarnya.
Fenomena alam lainnya  yang juga sangat menarik adalah sebuah mata air tawar yang terletak di tepi pantai. Kemudian hanya beberapa puluh meter saja dari tepi pantai terdapat sebuah gua yang di dalamnya mengalir mata air tawar dan jernih. Mata air inilah yang dimanfaatkan masyarakat sekitar  untuk mandi maupun memasak.  Berjarak beberapa meter saja dari gua tersebut terdapat  sisa-sisa benteng istana. Demikian pula di dekat pantai terdapat sisa-sisa Benteng Karampuang. Menurut penuturan masyarakat  salah satu dari dua benteng pertahanan Lemo-Lemo ini dulunya digunakan sebagai pertahanan dari serangan Belanda.
Ismi Yuliati, S.S seorang alumnus sejarah Universitas Gadjah Mada menerangkan dalam sebuah artikelnya yang dimuat oleh beritabulukumba.com pada tahun 2013, bahwa Lemo-Lemo adalah mata rantai yang tidak dapat dipisahkan dalam sejarah kejayaan maritim di Nusantara beberapa abad silam. Lemo-Lemo adalah kerajaan yang berada di bawah taklukan Kerajaan Gowa.  Kala Kerajaan Gowa berperang melawan Belanda, maka wilayah Kerajaan Lemo-Lemo juga menjadi salah satu basis perlawanan dan pertahanan.  Lemo-lemo adalah pusat Kerajaan Lemo-Lemo. Sebagai sebuah daerah taklukan, Lemo-lemo berkewajiban untuk menyediakan armada bagi Kerajaan Gowa. Lantaran masyarakat Lemo-Lemo mewarisi keahlian membuat perahu. Hingga kini keahlian membuat perahu masih dapat dijumpai di Lemo-Lemo. Meski intensitasnya tidak seperti halnya di Tanah Beru.
Beberapa makam para raja Lemo-Lemo menjadi bukti bahwa di tempai ini dulunya pernah berdiri sebuah kerajaan yang memegang peranan penting dalam sejarah kemaritiman Nusantara. Makam para pembesar Kerajaan Lemo-Lemo yang terdapat di antara semak-semak hutan di tepian Pantai Lemo-Lemo juga merupakan aset budaya sekaligus wisata sejarah.(*)
 
             

Reaksi:

3 komentar:

  1. wah tempatnya keren, latar belakang sejarahnya juga ya bang
    paling ngeri bagian suku kanibalnya itu lho :/

    BalasHapus
  2. Maaf..saya turunan dari Karaeng Lemo-Lemo..Perlu saya klarifikasi bahwa menurut cerita dari turun temurun Lemo_lemo itu bukan daerah taklukkan dari Kerajaan Gowa tapi Kerajaan Lemo-Lemo adalah saudara dari Kerajaan Gowa. Kalau diliat dari Silsilah Raja Lemo-Lemo ke IX yaitu Karaeng Tanriliwang Dg. Palallo adalah anak dari Mabbitara Daeng Palallo (Somba Ri Gowa) kalau masih butuh informasi silahkan telusuri ke Balla Lompoa di Gowa, siapa tau bisa dibukakn lontaranya.

    BalasHapus